Langsung ke konten utama

100416 - ups, kelewatan

Laki-laki.

Aku ingin pria luar biasa, bukan lagi anak laki-laki bertubuh besar berlagak jagoan.

Yang kukagumi setiap budi pekertinya. Yang kuhormati. Yang bisa menuntunku kepadaMu.

Yang matang pikiran, emosi, dan hatinya.

Yang pintar di bidangnya dan cerdas menjalani kehidupannya.

Yang mampu menggali apa yang terbaik dari dirinya dan diriku, serta kami.

Dengannya pula kumiliki buah hati yang selalu bersujud padaMu.


Bolehkah aku meminta bonus ya Allah?

Sebagai gantinya aku akan jadi wanita yang bisa membahagiakan lebih banyak orang.

Wajah tampan meluluhkan hati tapi tetap merunduk.

Karisma di setiap gerak gerik dan baik menampilkan diri.

Aku akan belajar lebih baik menggenggam kepercayaanMu, tidak berpaling tapi semakin mengingatMu.

Tapi ya Allah, tetaplah tuntun aku selamanya.

Aku hanyalah seorang makhluk yang kau sebut perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

It's been like 2 years?

I just finished skimming my post up to end 2012. Before getting married, and after marriage life up to last post before this. I didn't realized my post before marriage are mostly stories about a girl who tried so hard to get out of her miserable life with dark clouds inside her head facing her series of unfortunate events (I intended this blog to chute out those unnecessary garbage). After the wedding, honeymoon phase. Mmm, it was that fun, though. But, since I know this blog has other reader I tried to cover my bad stories. Wasn't like how I intended this blog to. After baby and few jobs, well, my life is actually getting better but still focus on my miserable life! (and list of hopes too) Last one, I wrote so many "haha" after a sentence that I think awkward, which now I find it annoying. Ha! (not haha)  I thought I was a positive person. But, it seems just to cover things up.  Even "let's giggle" this blog tagline is a survival, convincing my life...

catatan kaki

saya detik ini mungkin tahu perbedaan antara tersenyum dengan terpaksa atau bagaimana caranya tersenyum karena memang sedang gundah. tersenyum dengan terpaksa itu membohongi diri sendiri dan orang lain. saya pernah tersenyum supaya orang tidak mampu melihat kegundahan saya. saya memasang tameng, membentengi diri saya sendiri. tapi, ketika saya bisa tersenyum di kala gundah, mungkin saya telah menyerahkan segalanya. hal ini tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. tapi saya pernah mengalaminya dan saya mengerti itu semua sekarang. karena saya sudah menerima semua ini setidaksuka apapun saya dengan keadaan saya. karena saya tidak terlalu menggenggam suatu apapun terlalu kuat. satu yang paling penting, saya sudah menyerahkan semuanya, termasuk diri saya dan saya merasa cukup dengan semua itu. tersenyum yang paling enak itu bukan karena ada alasan yang spesifik. tapi, senyum itu jendela diri saya yang paling dalam, bukan masalah saya sedang bahagia, sedih atau biasa saja. saya juga belajar...