Langsung ke konten utama

..... hey love 2 100613

Allah,
Mungkin ini sepele diantara urusanMu
dibandingkan belahan dunia lain yang berperang
Sedih sekali rasanya dipertemukan dalam waktu yang lama
Sedih sekali pernah dipertemukan
Terlepas dari segala hikmah dan pelajaranMu
Sedih sekali.
Adakah nanti satu, Allah?
Satu untuk yg terakhir?
Bukan yang meminta, berjanji lalu pergi?
Bukan yang berbohong dalam diam?
Bukan yang menyembunyikan?
Sementara aku berusaha keras menyesuaikan

Sakit dan sedih sekali Allah,
Air mata masih tak kuasa kubendung
Ini hanya sepele
Dibandingkan urusanMu di belahan dunia yang lain
Antarkan aku kepadaMu Allah
Alasan kebahagiaan karenaMu
Buatlah aku bisa melihat dengan jelas
Menjernihkan hati, jiwa, dan ruhku
Allah aku tak bisa bohong kalau aku sedih?
Kepada siapa lagi aku mampu apa adanya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

It's been like 2 years?

I just finished skimming my post up to end 2012. Before getting married, and after marriage life up to last post before this. I didn't realized my post before marriage are mostly stories about a girl who tried so hard to get out of her miserable life with dark clouds inside her head facing her series of unfortunate events (I intended this blog to chute out those unnecessary garbage). After the wedding, honeymoon phase. Mmm, it was that fun, though. But, since I know this blog has other reader I tried to cover my bad stories. Wasn't like how I intended this blog to. After baby and few jobs, well, my life is actually getting better but still focus on my miserable life! (and list of hopes too) Last one, I wrote so many "haha" after a sentence that I think awkward, which now I find it annoying. Ha! (not haha)  I thought I was a positive person. But, it seems just to cover things up.  Even "let's giggle" this blog tagline is a survival, convincing my life...

catatan kaki

saya detik ini mungkin tahu perbedaan antara tersenyum dengan terpaksa atau bagaimana caranya tersenyum karena memang sedang gundah. tersenyum dengan terpaksa itu membohongi diri sendiri dan orang lain. saya pernah tersenyum supaya orang tidak mampu melihat kegundahan saya. saya memasang tameng, membentengi diri saya sendiri. tapi, ketika saya bisa tersenyum di kala gundah, mungkin saya telah menyerahkan segalanya. hal ini tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. tapi saya pernah mengalaminya dan saya mengerti itu semua sekarang. karena saya sudah menerima semua ini setidaksuka apapun saya dengan keadaan saya. karena saya tidak terlalu menggenggam suatu apapun terlalu kuat. satu yang paling penting, saya sudah menyerahkan semuanya, termasuk diri saya dan saya merasa cukup dengan semua itu. tersenyum yang paling enak itu bukan karena ada alasan yang spesifik. tapi, senyum itu jendela diri saya yang paling dalam, bukan masalah saya sedang bahagia, sedih atau biasa saja. saya juga belajar...